pengen tau aja

Minggu, 11 Juli 2010

aku yang tak kuasa akan diriku

aku adalah aku
aku adalah mahkluk yang di ciptakan Tuhan melalui perantara ke dua orang tua-ku
aku tercipta sebagai mahkluk yang sempurna diantara mahkluk-makhluk lain ciptaan Tuhan
karena aku bangga menjadi manusia
mahkluk yang beruntung dan sempurna
hidup adalah sebuah pilihan
dimana kaki ini berpijak cobalah untuk terus melangkah
karena langkah inilah yang akan menuntun kita ke masa yang akan datang
pilihan adalah jalan yang akan menentukan kita
dimanakah nanti kita akan berada
tidak ada jalan buntu dan tetaplah mencoba untuk menjadi lebih baik
jangan pernah menyerah pada keadaan

Sabtu, 26 Juni 2010

Sekolah Tinggi "James Bond" di Sentul

Sekolah Tinggi "James Bond" di Sentul

Rabu, 7 Oktober 2009 | 03:57 WIB

Oleh Wisnu Dewabrata

Wajah cerah nan semringah tergambar jelas di paras para wisudawan Sekolah Tinggi Intelijen Negara, 2 Oktober lalu, yang menggelar prosesi wisuda pertama kali di kampus mereka, yang berdiri di kawasan perbukitan sejuk di wilayah Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Empat tahun mereka kuliah dan menimba berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan keintelijenan di kampus yang dibangun sejak pertengahan tahun 2004 saat Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) masih dijabat AM Hendropriyono.

Suasana wisuda angkatan I dan II, masing-masing terdiri dari 30-an wisudawan dua program studi, keagenan (agent) dan analis (analyst), itu terkesan tak jauh beda dengan prosesi serupa di berbagai kampus lain. Banyak orangtua dan kerabat para wisudawan hadir dalam upacara itu selain para undangan kehormatan seperti para pejabat intelijen dan tentu saja Kepala BIN Syamsir Siregar beserta wakilnya, As’ad Said Ali.

Tidak ada kesan angker, kaku, tegang, apalagi berbau-bau militer. Padahal, tugas teramat berat menanti para lulusan Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) itu. Menurut Syamsir, para wisudawan sekolah tinggi itu diproyeksikan menjadi tulang punggung dan generasi penerus intelijen Indonesia setidaknya 10-15 tahun mendatang. Malah bukan tidak mungkin salah seorang dari mereka bakal menjabat Kepala BIN menggantikan dirinya.

Beban berat lain boleh jadi dengan tepat, singkat, dan padat diilustrasikan As’ad dalam orasi ilmiah yang ia sampaikan saat itu. Menurut dia, sosok intelijen adalah mereka yang, ”Jika berhasil (menjalankan tugas) tidak dipuji. Jika gagal dicaci maki. Jika hilang tidak akan dicari. Dan jika mati tidak ada yang mengakui.”

Hidup serba dalam bayang-bayang keserbarahasiaan. Bahkan sejak saat masih berkuliah. Hal itu dibenarkan Ketua II STIN Supono Sugirman, yang hari itu menemani para wartawan berkeliling mendatangi sejumlah fasilitas perkuliahan dan asrama tempat tinggal di STIN.

”Kalau ditanya kuliah di mana, anak-anak sudah paham harus menjawab apa. Hanya keluarga mereka yang diberi tahu kondisi sebenarnya, termasuk juga soal akan jadi apa anak-anak mereka nanti, seperti apa pekerjaan dan risikonya,” ujar Supono sambil tersenyum.

Menurut Supono, keluarga harus tahu. Dalam dunia intelijen, perlindungan oleh keluarga adalah perlindungan terbaik. Hal serupa, menurut dia, juga dilakukan oleh para teroris.

Setiap tahun STIN merekrut 30-an mahasiswa untuk dididik selama empat tahun dalam jenjang strata satu, dengan gelar sarjana intelijen (S In). Selain ilmu keintelijenan, para mahasiswa juga dididik dengan bekal keilmuwan lainnya sebagai pendukung, seperti ekonomi, sosial, politik, eksakta, budaya, dan banyak lagi. Mereka juga diwajibkan menguasai bahasa asing selain Inggris, seperti Mandarin, Arab, dan Perancis.

Para pengajarnya pun didatangkan khusus dari dosen-dosen terbaik dari semua perguruan tinggi negeri terkenal di negeri ini. Para pengajar tamu juga didatangkan dari kalangan praktisi terbaik di bidangnya.

Pola perekrutan mahasiswa baru digelar secara khusus. Bersama BIN, pihak STIN, dengan dibantu instansi terkait lain seperti Departemen Pendidikan Nasional, membentuk tim khusus untuk ”memburu” para siswa berprestasi dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata dari seluruh pelosok Indonesia. Setelah dikumpulkan, mereka dites kembali oleh STIN.

”Kami di sini akan mendidik mereka dari sekadar anak cerdas menjadi lebih cerdas lagi. Mereka kami ambil dari berbagai sekolah yang menerapkan sistem asrama (boarding school). Tujuannya agar sejak awal mereka sudah terbiasa hidup disiplin. Orang cerdas tetapi tidak disiplin bisa jadi orang yang berbahaya,” ujar Supono.

Sementara itu, Kepala STIN Sutjahjo Adi menegaskan, STIN mendidik calon prajurit perang pikir, bukan fisik. Perdebatan akademis diwajibkan. Para mahasiswa dipersilakan berargumen sekeras mungkin, tetapi tidak boleh bentrok fisik.

Pihak STIN melarang, apalagi menerapkan cara-cara kekerasan, baik di antara para pengajar dengan peserta didik maupun antarmahasiswa. Hal itu sesuai dengan slogan pendidikan STIN, ”Cendikia Waskita”. Hubungan antar yunior dan para senior (wisudawan), seperti terlihat sepanjang kegiatan wisuda, juga membuktikan klaim Adi tadi. Bagi mereka yang melanggar, sanksi teramat keras siap menunggu.

Wanita cantik

Sayangnya, tidak satu pun dari puluhan wisudawan itu bisa diajak berbincang-bincang. Di antara para wisudawan tampak wanita berparas cantik. Ada pula yang berpenampilan genit. Walau selalu tersenyum dan berlaku ramah, nyaris tidak ada jawaban berarti, apalagi panjang lebar, keluar dari mulut mereka saat ditanya.

Boleh jadi hal itu terjadi naluriah. Maklum saja, setelah empat tahun dididik menjadi calon intelijen andal, mereka hanya paham bagaimana caranya ”menyerap” sebanyak mungkin informasi, bukan malah membagi-bagikannya.

Akan tetapi, soal apakah para mahasiswa itu memang diajari agar bisa menjadi seolah tokoh intelijen rekaan Hollywood, James Bond, di dunia nyata, secara berkelakar Sutjahjo Adi menjawab, ”Kalau hal itu berarti selalu ditemani perempuan cantik macam di film, saya setiap hari ya memang didampingi perempuan cantik, yaitu istri saya sendiri.”

Sekolah Tinggi "James Bond" di Sentul

Sekolah Tinggi "James Bond" di Sentul

Rabu, 7 Oktober 2009 | 03:57 WIB

Oleh Wisnu Dewabrata

Wajah cerah nan semringah tergambar jelas di paras para wisudawan Sekolah Tinggi Intelijen Negara, 2 Oktober lalu, yang menggelar prosesi wisuda pertama kali di kampus mereka, yang berdiri di kawasan perbukitan sejuk di wilayah Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Empat tahun mereka kuliah dan menimba berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan keintelijenan di kampus yang dibangun sejak pertengahan tahun 2004 saat Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) masih dijabat AM Hendropriyono.

Suasana wisuda angkatan I dan II, masing-masing terdiri dari 30-an wisudawan dua program studi, keagenan (agent) dan analis (analyst), itu terkesan tak jauh beda dengan prosesi serupa di berbagai kampus lain. Banyak orangtua dan kerabat para wisudawan hadir dalam upacara itu selain para undangan kehormatan seperti para pejabat intelijen dan tentu saja Kepala BIN Syamsir Siregar beserta wakilnya, As’ad Said Ali.

Tidak ada kesan angker, kaku, tegang, apalagi berbau-bau militer. Padahal, tugas teramat berat menanti para lulusan Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) itu. Menurut Syamsir, para wisudawan sekolah tinggi itu diproyeksikan menjadi tulang punggung dan generasi penerus intelijen Indonesia setidaknya 10-15 tahun mendatang. Malah bukan tidak mungkin salah seorang dari mereka bakal menjabat Kepala BIN menggantikan dirinya.

Beban berat lain boleh jadi dengan tepat, singkat, dan padat diilustrasikan As’ad dalam orasi ilmiah yang ia sampaikan saat itu. Menurut dia, sosok intelijen adalah mereka yang, ”Jika berhasil (menjalankan tugas) tidak dipuji. Jika gagal dicaci maki. Jika hilang tidak akan dicari. Dan jika mati tidak ada yang mengakui.”

Hidup serba dalam bayang-bayang keserbarahasiaan. Bahkan sejak saat masih berkuliah. Hal itu dibenarkan Ketua II STIN Supono Sugirman, yang hari itu menemani para wartawan berkeliling mendatangi sejumlah fasilitas perkuliahan dan asrama tempat tinggal di STIN.

”Kalau ditanya kuliah di mana, anak-anak sudah paham harus menjawab apa. Hanya keluarga mereka yang diberi tahu kondisi sebenarnya, termasuk juga soal akan jadi apa anak-anak mereka nanti, seperti apa pekerjaan dan risikonya,” ujar Supono sambil tersenyum.

Menurut Supono, keluarga harus tahu. Dalam dunia intelijen, perlindungan oleh keluarga adalah perlindungan terbaik. Hal serupa, menurut dia, juga dilakukan oleh para teroris.

Setiap tahun STIN merekrut 30-an mahasiswa untuk dididik selama empat tahun dalam jenjang strata satu, dengan gelar sarjana intelijen (S In). Selain ilmu keintelijenan, para mahasiswa juga dididik dengan bekal keilmuwan lainnya sebagai pendukung, seperti ekonomi, sosial, politik, eksakta, budaya, dan banyak lagi. Mereka juga diwajibkan menguasai bahasa asing selain Inggris, seperti Mandarin, Arab, dan Perancis.

Para pengajarnya pun didatangkan khusus dari dosen-dosen terbaik dari semua perguruan tinggi negeri terkenal di negeri ini. Para pengajar tamu juga didatangkan dari kalangan praktisi terbaik di bidangnya.

Pola perekrutan mahasiswa baru digelar secara khusus. Bersama BIN, pihak STIN, dengan dibantu instansi terkait lain seperti Departemen Pendidikan Nasional, membentuk tim khusus untuk ”memburu” para siswa berprestasi dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata dari seluruh pelosok Indonesia. Setelah dikumpulkan, mereka dites kembali oleh STIN.

”Kami di sini akan mendidik mereka dari sekadar anak cerdas menjadi lebih cerdas lagi. Mereka kami ambil dari berbagai sekolah yang menerapkan sistem asrama (boarding school). Tujuannya agar sejak awal mereka sudah terbiasa hidup disiplin. Orang cerdas tetapi tidak disiplin bisa jadi orang yang berbahaya,” ujar Supono.

Sementara itu, Kepala STIN Sutjahjo Adi menegaskan, STIN mendidik calon prajurit perang pikir, bukan fisik. Perdebatan akademis diwajibkan. Para mahasiswa dipersilakan berargumen sekeras mungkin, tetapi tidak boleh bentrok fisik.

Pihak STIN melarang, apalagi menerapkan cara-cara kekerasan, baik di antara para pengajar dengan peserta didik maupun antarmahasiswa. Hal itu sesuai dengan slogan pendidikan STIN, ”Cendikia Waskita”. Hubungan antar yunior dan para senior (wisudawan), seperti terlihat sepanjang kegiatan wisuda, juga membuktikan klaim Adi tadi. Bagi mereka yang melanggar, sanksi teramat keras siap menunggu.

Wanita cantik

Sayangnya, tidak satu pun dari puluhan wisudawan itu bisa diajak berbincang-bincang. Di antara para wisudawan tampak wanita berparas cantik. Ada pula yang berpenampilan genit. Walau selalu tersenyum dan berlaku ramah, nyaris tidak ada jawaban berarti, apalagi panjang lebar, keluar dari mulut mereka saat ditanya.

Boleh jadi hal itu terjadi naluriah. Maklum saja, setelah empat tahun dididik menjadi calon intelijen andal, mereka hanya paham bagaimana caranya ”menyerap” sebanyak mungkin informasi, bukan malah membagi-bagikannya.

Akan tetapi, soal apakah para mahasiswa itu memang diajari agar bisa menjadi seolah tokoh intelijen rekaan Hollywood, James Bond, di dunia nyata, secara berkelakar Sutjahjo Adi menjawab, ”Kalau hal itu berarti selalu ditemani perempuan cantik macam di film, saya setiap hari ya memang didampingi perempuan cantik, yaitu istri saya sendiri.”

SEJARAH PEMILU DI INDONESIA

29 Januari 2010
SEJARAH PEMILU DI INDONESIA

TAHUN 1955

Ini merupakan pemilu yang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia. Waktu itu Republik Indonesia berusia 10 tahun. Kalau dikatakan pemilu merupakan syarat minimal abgi adanya demokrasi, apakah berarti selama 10 tahun itu Indonesia benar-benar tidak demokratis? Tidak mudah juga menjawab pertanyaan tersebut.
Yang jelas, sebetulnya sekitar tiga bulan setelah kemerdekaan di proklamasikan oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945, pemerintah waktu itu sudah menyatakan keinginannya untuk bisa menyelenggarakan pemilu pada awal tahun 1946. Hal itu dicantumkan dalam Maklumat X, atau Maklumat Wakil Presiden Mohammad Hatta tanggal 3 Nopember 1945, yang berisi anjuran tentang pembentukan partai-partai politik.
Maklumat tersebut menyebutkan, pemilu untuk memilih anggota DPR dan MPR akan diselenggarakan bulan Januari 1946. Kalau kemudian ternyata pemilu pertama tersebut baru terselenggara hampir sepuluh tahun setelah kemudian tentu bukan tanpa sebab.

Tetapi, berbeda dengan tujuan yang dimaksudkan oleh Maklumat X, pemilu 1955 dilakukan dua kali. Yang pertama, pada 29 September 1955 untuk memilih anggota-anggota DPR. Yang kedua, 15 Desember 1955 untuk memilih anggota-anggota Dewan Konstituante. Dalam Maklumat X hanya disebutkan bahwa pemilu yang akan diadakan Januari 1946 adalah untuk memilih anggota DPR dan MPR, tidak ada Konstituante.

Keterlambatan dan "penyimpangan" tersebut bukan tanpa sebab pula. Ada kendala yang bersumber dari dalam negeri dan ada pula yang berasal dari faktor luar negeri. Sumber penyebab dari dalam antara lain ketidaksiapan pemerintah menyelenggarakan pemilu, baik karena belum tersedia perangkat perundang-undangan untuk mengatur penyelenggaraan pemilu maupun akibat rendahnya stabilitas keamanan negara. Dan yang tidak kalah pentingnya, penyebab dari dalam itu adalah sikap pemerintah yang enggan menyelenggarakan perkisaran (sirkulasi) kekuasaan secara teratur dan kompetitif. Penyebab dari luar antara lain serbuan kekuatan asing yang mengharuskan negara ini terlibat peperangan.

Tidak terlaksana pemilu pertama pada bulan Januari 1946 seperti yang diamanatkan oleh Maklumat 3 Nopember 1945, paling tidak disebabkan 2 (dua) hal :

1. Belum siapnya pemerintah baru, termasuk dalam penyusunan perangkat UU Pemilu
2. Belum stabilnya kondisi keamanan negara akibat konflik internal antara kekuatan politik yang ada pada waktu itu, apalagi pada saat yang sama gangguan dari luar juga masih mengancam. Dengan kata lain para pemimpin lebih disibukkan oleh urusan konsolidasi.

Namun tidak berarti bahwa konsolidasi kekuatan bangsa dan perjuangan mengusir penjajah itu, pemerintah kemudian tidak berniat untuk menyelenggarakan pemilu. Ada indikasi kuat bahwa pemerintah punya keinginan politik untuk menyelenggarakan pemilu. Misalnya adalah dibentuknya UU No.27 tahun 1948 tentang pemilu, yang kemudian diubah dengan UU No.12 tahun 1949 tentang Pemilu. Di dalam UU No.12/1949 diamanatkan bahwa pemilihan umum yang akan dilakukan adalah bertingkat (tidak langsung). Sifat pemilihan tidak langsung ini didsarkan pada alasan bahwa mayoritas warganegara Indonesia pada waktu itu masih buta huruf, sehingga kalau pemilihannya langsung dikhawatirkan akan banyak terjadi distorsi.

Kemudian pada paroh kedua tahun 1950, ketika Mohammad Natsir dari Masyumi menjadi Perdana Menteri, pemerintah memutuskan untuk menjadi pemilu sebagai program kabinetnya. Sejak itu pembahasan UU Pemilu mulai dilakukan lagi, yang dilakukan oelh Panitia Sahardjo dan Kantor Panitia Pemilihan Pusat sebelum kemudian dilanjutkan ke parlemen. Pada waktu itu Indonesia kembali menjadi negara kesatuan, setelah sejak 1949 menjadi negara serikat dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS).

Setelah Kabinet Natsir jatuh 6 bulan kemudian, pembahasan RUU Pemilu dilanjutkan oleh pemerintahan SUkiman Wirjosandjojo, juga dari Masyumi. Pemerintah ketika itu berupaya menyelenggarakan pemilu karena pasal 57 UUDS 1950 menyatakan bahwa anggota DPR dipilih oleh rakyat melalui pemilihan umum.

Tetapi pemerintah Sukiman juga tidak berhasil menuntaskan pembahasan undang-undang pemilu tersebut. Selanjutnya UU ini baru selesai dibahas oleh parlemen pada masa pemerintahan Wilopo dari PNI pada tahun 1953. Maka lahirlah UU No.7 tahun 1953 tentang Pemilu. UU inilah yang menjadi payung hukum Pemilu 1955 yang diselenggarakan secara langsung, umum, bebas dan rahasia. Dengan demikian UU No.27 tahun 1948 tentang Pemilu yang diubah dengan UU No.12 tahun 1949 yang mengadopsi pemilihan bertingkat (tidak langsung) bagi anggota DPR tidak berlaku lagi.

Patut dicatat dan dibanggakan bahwa pemilu yang pertama kali tersebut berhasil diselenggarakan dengan aman, lancar, jujur dan adil serta sangat demokratis. Pemilu 1955 bahkan mendapat pujian dari berbagai pihak, termasuk negara-negara asing. Pemilu ini diikuti oleh lebih dari 30-an partai politik dan lebih dari seratus daftar kumpulan dan calon perorangan.

Yang menarik dari Pemilu 1955 adalah tingginya kesadaran berkompetisi secara sehat. Misalnya, meski yang menjadi calon anggota DPR adalah perdana menteri dan menteri yang sedang memerintah, mereka tidak menggunakan fasilitas negara dan otoritasnya kepada pejabat bawahan untuk menggiring pemilih yang menguntungkan partainya.
Karena itu sosok pejabat negara tidak dianggap sebagai pesaing yang menakutkan dan akan memenangkan pemilu dengan segala cara. Karena pemilu kali ini dilakukan untuk dua keperluan, yaitu memilih anggota DPR dan memilih anggota Dewan Kosntituante, maka hasilnya pun perlu dipaparkan semuanya.

Dikutip dari :www.calegindonesia.com

Perbanyak Sujud agar Otak KIta Sehat dan Segar

Perbanyak Sujud agar Otak KIta Sehat dan Segar


Sholat itu Bikin Otak Kita Sehat” “Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu dan Berkurbanlah”. Q.S Al Kautsar (102) : 2

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk”. QS. Al-Baqarah (2) ayat 43.

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menghadap Allah (meninggal dunia), sedangkan ia biasa melalaikan Shalatnya, maka Allah tidak mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya (yang telah ia kerjakan tsb)”. Hadist Riwayat Tabrani.

Tergantung pada kecintaan dalam mengerjakan sholat. Oleh karena itu kenalilah dirimu sendiri wahai hamba Allah! Takutlah kamu jika nanti menghadap Allah Azza Wa Jalla tanpa membawa kualitas keislaman yang baik. Sebab kualitas keislaman dalam hal ini ditentukan oleh kualitas ibadah sholatmu. (Ibn al Qayyim, ash Sholah, hal 42 dan ash Sholah wa hukmu taarikihaa, hal 170-171)

**

Shalat dan Otak Manusia

Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita?

Seorang Doktor di Amerika (Dr. Fidelma) telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran.

Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu itu telah membuka sebuah klinik yang bernama “Pengobatan Melalui Al Qur’an” Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya.

Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal.

Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang waktu yang diwajibkan oleh Islam.

Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena Sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.

**

Kesimpulannya :

Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan Secara lebih normal. Maka tidak heranlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial Masyarakat saat ini.

Sumber : National Geographic 2002 Road to Mecca (Ustz. Arifin Ilham)

Khasiat Bawang Putih

Khasiat Bawang Putih




Dr. Yongxiang Zhang dari University of Tokyo, Jepang menyatakan bahwa kemampuan bawang putih menghambat kemerosotan otak dan sistem kekebalan pada hewan percobaan sangat mengesankan. Hal itu memang tidak berarti bahwa bawang putih mampu memulihkan masa muda atau sama sekali menghambat proses penuaan. Tetapi setidaknya manfaat bawang putih membantu menghambat proses penuaan.
Di samping itu, menurut penelitian Memorial Sloan Kettering Cancer Center, bahan kimia SAMC yang terdapat pada bawang putih dapat menghambat pertumbuhan sel kanker. Dengan mengkonsumsi bawang putih, resiko terkena kanker dapat dikurangi.
Kadar kolesterol yang tinggi biasanya menjadi pertanda proses penuaan. Bawang putih yang dikonsumsi secara rutin dalam jangka waktu tertentu dapat membantu menurunkan kadar kolesterol. Zat anti-kolesterol dalam bawang putih yang bernama ajoene menolong mencegah penggumpalan darah.
Dr. Gilles Fillion dari Institute Pasteur di Perancis menduga, bawang putih dapat membantu meredakan stress, kecemasan, dan depresi. Tentunya dengan efek yang lebih lembut. Ia menemukan bahwa bawang putih bermanfaat untuk membantu melepaskan serotonin, yakni bahan kimia yang terlibat dalam pengaturan serangkaian luas suasana hati dan tingkah laku termasuk kecemasan, murung, rasa sakit, agresi, stress, kurang tidur dan ingatan. Kadar serotonin yang tinggi dalam otak cenderung berfungsi sebagai obat penenang yang menentramkan Anda, memudahkan tidur, dan meringankan kemurungan. Bawang putih menolong menormalkan sistem serotonin tersebut.


sumber :www.angelfire.com

Relaksasikan Mata Lelah Anda

Relaksasikan Mata Lelah Anda
Tak dapat dihindari, tuntutan pekerjaan membuat Anda harus berhadapan dengan layar monitor PC sepanjang hari. Tanpa disadari, terkadang Anda tak mengindahkan lelah yang datang pada si indera penglihatan. Jangan abaikan sinyal ini, segera istirahatkan mata Anda demi mencegah dampak negatif lebih lanjut.

Lakukan gerakan-gerakan yang dapat membuat Anda lebih rileks. Alihkan pandangan dari monitor ke satu objek tertentu di sekitar Anda. Dapat juga dengan melakukan hal berikut; angkat jari telunjuk dengan posisi tegak dan tempatkan beberapa centimeter di depan wajah Anda. Fokuskan pandangan pada jari telunjuk. Selanjutnya geserlah jari telunjuk Anda menjauh beberapa centimeter. Lalu alihkan lagi pandangan ke objek lain. Sesaat kemudian kembalilah menfokuskan tatapan pada jari telunjuk yang telah digeser medekat ke wajah. Ulangi latihan ini hingga tiga kali.

Anda juga dapat melakukan rileksasi dengan cara meletakkan siku di meja kerja dan telapak tangan menghadap ke atas. Biarkan beban jatuh ke depan dan kepala jatuh ke tangan. Posisikan kepala sehingga alis berada di dasar telapak tangan dengan jari menjulur ke dahi. Tutup mata dan tarik napas melalui hidung. Tahan napas selama beberapa detik kemudian buang napas. Lanjutkan pernapasan dalam ini selama 15 sampai 30 detik.

Tak hanya itu, seringlah berkedip saat memandang monitor PC Anda guna menyegarkan mata kembali dan mencegah mata kering. Tahukah Anda bahwa orang yang sedang bekerja di depan layar monitor biasanya lebih jarang berkedip. Lebih sering berkedip akan membantu melembabkan mata.

Sumber : Suara Merdeka